Kamis, 26 Desember 2013

LAPORAN OBSERVASI PENDIDIKAN FOKUS BIDANG KURIKULUM OLEH IDA PARWATI (1113013000017)




Saya Ida Parwati, akan memaparkan hasil observasi saya selaku anggota kelompok 3.

Hasil wawancara saya bersama Bapak M. Arif Noor, S.Pd., S.E., MM. selaku kepala sekolah Yayasan Aldiana Nusantara.

Kurikulum di sekolah ini mengikuti aturan dari Pusat bukan dibuat oleh sekolah. Berarti,  mengikuti teori Ralph W.Tayler dan Benjamin S.Bloom, bukan mengikuti teori John Dewey yang membuat kurikulum sendiri.

Tujuan kurikulum yaitu focus kepada cita-cita bangsa untuk mencerdaskan anak bangsa. Sejauh ini, peserta didik di sini mampu mengikuti kurikulum yang ada. Tidak ada yang lamban atau bahkan sampai drop untuk menjalani kurikulum yang ada. Kurikulum tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya, yang kita ketahui bahwa tahun sebelumnya memakai sistem kompetensi sedangkan tahun ini menggunakan kurikulum 2013 yaitu outentik sientifik. Yang apabila sistem kompetensi yaitu memfokuskan kesuksesan belajar tertuju pada guru, sedangkan pada kurikulum 2013 ini, lebih menggenjot skill atau kemampuan siswa. Siswa lebih diarahkan sesuai minatnya. Jadi, siswa tidak lagi menjadi subjek. Bahkan siswa mampu menjadi objek.

Antara kurikulum SMK, SMA, dan MA, masing-masing mempunyai kekurangan dan kelebihan. Tidak bisa dijudge mana yang lebih baik dan mana yang standar. Masing-masing sekolah tentu mempunyai visi yang baik bagi peserta didiknya. Agar peserta didik mampu menggapai cita-cita dan mampu memiliki masa depan yang cerah.

Kurikulum di Indonesia sudah cukup baik. Tapi alangkah baiknya, jika program studi lebih difokuskan pada satu skill anak didik. Seperti di Brunei Darussalam dan Australia, anak didik yang hanya memilih program kesenian hanya diajarkan tentang memahami kesenian dan mengaplikasikan dalam kehidupan, pelajaran lainnya seperti bahasa inggris, matematika tidak digenjot habis-habisan. Jadi hanya tertuju pada satu tujuan demi menciptakan anak didik yang berkualitas tinggi dibidangnya.
Mata pelajaran di Indonesia lebih baik dikurangi, harusnya difokuskan kepada minat atau skill peserta didik. Dan jam pembelajaran diminimalisir agar peserta didik tidak terlalu capek dalam belajar. Karena percuma kalau belajar tetapi otaknya sudah tidak mampu lagi mencerna.

Intinya, kurikulum di SMK Nusantara ini berjalan dengan baik, karena didukung oleh siswa-siswinya dalam menjalani aturan yang ada. Tetapi, alangkah lebih baiknya jika anak didik bangsa Indonesia hanya difokuskan sesuai kemampuannya agar bisa menjadi manusia yang memiliki kemampuan berkompetensi yang tinggi.

Sekian observasi dari saya.

LAPORAN OBSERVASI PENDIDIKAN FOKUS BIDANG GURU OLEH DEDE EL TRIANA (1113013000026)



Menjadi GURU adalah amanah. Bukan amanah yang sementara. Tapi amanah sepanjang usia ini ada. Pun menjadi GURU baik itu tak mudah. Butuh iman dan ilmu kehidupan yang seiring dengan pengalaman. Benar. Menjadi GURU adalah pilihan. Seharusnya kita sadar, Allah tidak main-main mengamanahkan ini pada kita. Karena, GURU adalah makhluk yang LUAR BIASA. Yang dari tangannya bisa terlahir manusia yang mencontoh  Fir’aun atau bahkan manusia yang meneladani Rasulullah. Karena seorang GURU adalah ibarat sedang mendidik sebuah generasi”
Cambuk bagi kita- seorang guru- kata-kata pembuka diatas. Sebuah cambuk yang harusnya menjadi pembelajaran dan sebuah renungan untuk kemudian memperbaiki kualitas diri kita sehingga kita tak henti untuk belajar.
Untuk itulah kami mencoba belajar dengan melakukan observasi ke sekolah. Sekolah yang kami tuju untuk melakukan observasi ini adalah SMK Kesehatan Nusantara yang terletak di jalan legoso, Tangerang Selatan. Observasi ini dimaksudkan untuk mengetahui seluk-beluk komponen sekolah yang mencakup kurikulum, kepala sekolah, guru, siswa, fasilitas sekolah, ekstrakurikuler, lulusan/alumni dan interaksi lingkungan sekolah dengan masyarakat. Namun, disini saya hanya akan memaparkan hasil penelitian saya tentang guru di SMK Kesehatan Nusantara.
Sebelum saya melaporkan hasil penelitian saya, sebaiknya kita ketahui dulu tentang aspek penting yang harus dilakukan oleh seorang guru selama pembelajaran, yaitu:
1.      Persiapan
Dalam melakukan persiapan pembelajaran, guru yang baik akan mempersiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan seksama; tujuan pembelajarannya dinyatakan dalam kalimat yang jelas, dalam RPP; materi pembelajaran yang akan diberikan memiliki kaitan atau dapat dikaitkan dengan materi pembelajaran sebelumnya; kemudian, media pembelajaran, setting ruangan kelas, hingga siswa sendiri perlu dipersiapkan.
2.      Presentasi/Penyajian
Pada saat presentasi, yang pertama-tama harus guru ingat adalah menyampaikan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Berikutnya: guru memotivasi siswa, menarik perhatian agar mengikuti proses pembelajaran dengan baik; menjelaskan materi pembelajaran dengan teknik-teknik tertentu sehingga jelas dan mudah dipahami siswa; pembelajaran dilaksanakan dalam langkah-langkah dan urutan yang logis; petunjuk-petunjuk pembelajaran singkat dan jelas sehingga mudah dipahami; materi pembelajaran baik kedalaman dan keluasannya disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan kemampuan siswa; selama proses pembelajaran guru memberikan kesempatan untuk bertanya kepada siswa; apabila guru bertanya, maka guru memberikan jawaban dengan jelas dan memuaskan; serta guru selalu mengajak siswa untuk menyimpulkan pembelajaran pada akhir kegiatan atau akhir sesi tertentu.

3.      Metode Pembelajaran
Pembelajaran yang baik selalu dilakukan secara bervariasi selama alokasi waktu yang tersedia, tidak monoton dan membosankan; apabila terjadi suatu permasalahan maka guru harus dapat bertindak dengan mengambil keputusan terbaik agar pembelajaran tetap berlangsung secara efektif dan efisien; ketika mempresentasikan atau membelajarkan materi pembelajaran maka tentu saja materi tersebut sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan; selama pembelajaran berlangsung guru tidak hanya berada pada posisi tertentu tetapi bergerak secara dinamis di dalam kelasnya; apabila tampak ada siswa yang membutuhkan bantuannya di bagian-bagian tertentu kelas, maka guru harus bergerak dan menghampiri secara berimbang dan tidak terfokus hanya pada beberapa gelintir siswa saja; penting bagi guru untuk mengenali dan mengetahui nama setiap siswa yang ada di dalam kelasnya; selama pembelajaran berlangsung guru harus memberikan reinforcement (penguatan) kepada siswa-siswanya dengan cara yang positif; apabila memberikan ilustrasi dan contoh maka hendaknya telah dipilih secara hati-hati sehingga benar-benar efektif dan bukannya malah membuat bingung siswa; media pembelajaran di dalam pelaksanaan pembelajaran digunakan secara efektif; latihan diberikan secara efektif; di dalam sebuah proses belajar, kesalahan adalah hal yang wajar karena itu guru haruslah selalu bersikap terbuka dan tidak menganggap negatif apabila siswa melakukan kesalahanan dalam proses belajarnya; selain itu guru juga harus dapat memperlakukan dengan bijaksana apabila terjadi kesalahan-kesalahan tertentu.
4.      Karakteristik Pribadi Guru
Pembelajaran yang baik hanya akan dapat dilakukan oleh guru dengan kepribadian yang baik. Bagaimanakah kepribadian yang baik itu? Guru yang baik harus selalu sabar terutama untuk memancing respon siswa. Adalah hal yang biasa ditemukan apabila guru mendapati siswa kurang memberikan respon terhadap pembelajaran yang dilakukan. Maka guru harus berupaya memancing siswa agar terlibat aktif dalam pembelajaran. Selain itu, selama pembelajaran guru harus bersikap tegas dan jelas; penampilan guru menarik dan tidak membosankan; guru menggunakan bahasa yang baik dan berterima; serta guru menunjukkan bagaimana ia adalah seorang yang selalu punya inisiatif,kreatif, dan berprakarsa.

5.      Interaksi  Selama Proses Pembelajaran
Di dalam proses pembelajaran yang baik terjadi interaksi yang baik pula yang misalnya ditunjukkan oleh: guru yang senantiasa memancing siswa untuk berdiskusi; terbentuk iklim yang sehat dan mendukung dimana siswa dapat merasa bebas untuk bertanya, mengajukan pendapat, menjawab pertanyaantanpa ada rasa takut dilecehkan, ditertawakan, atau dianggap bodoh; karena proses pembelajaran dapat berjalan ke berbagai arah, maka guru yang baik dapat mengarahkan proses pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran dan tidak menyimpang dari hal tersebut; selama proses pembelajaranberlangsung tampak siswa terlibat dalam kegiatan melalui interaksi satu sama lain atau dengan guru; walaupun kadang-kadang siswa diberikan tugas-tugas belajar tertentu yang sifatnya menegangkan secara akademis, mereka haruslah tetap santai dan enjoy menikmatinya; dalam interaksi proses pembelajaran guru mestinya menunjukkan sikap yang tidak memihak ke salah satu kelompok, selalu berusaha adil dan menghormati semua orang yang ada di dalam kelasnya; interaksi belajar yang baik akan memiliki indikasi dimana siswa terdorong untuk bekerja semaksimal mungkin; selama kegiatan belajar guru senantiasa memperhatikan kebutuhan siswa baik secara individu ataupun kelompok; apabila terjadi penyimpangan maka guru justru dapat menggunakannya secara positif untuk pembelajaran dan tidak berlebihan

Dalam penelitian ini, cara yang saya lakukan adalah dengan mewawancarai perwakilan dari guru di sekolah tersebut dan beberapa orang siswa. Berikut pertanyaan yang saya ajukan untuk guru.
1.      Bagaimana pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan ibu untuk meningkatkan kreatifitas, inovasi dan keaktifan peserta didik?
2.      Apa  kesulitan yang ibu hadapi dalam pelaksanaan pembelajaran seperti itu?
3.      Darimana saja sumber belajar yang ibu gunakan dalam pembelajaran?
4.      Apakah siswa juga dibebaskan dalam mencari sumber pembelajaran dalam artian tidak hanya terpaku pada buku teks yang dibeli di sekolah?
5.      Saat siswa mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran, bagaimana cara ibu membantu memecahkan kesulitannya?
6.      Apa langkah-langkah yang ibu lakukan untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa?
7.      Bagaimana cara ibu membatasi pergaulan yang berlebihan di lingkungan sekolah yang dapat menyebabkan siswa melanggar peraturan?
Dari hasil wawancara saya dengan perwakilan guru di SMK Kesehatan Nusantara menyebutkan bahwa guru melakukan pembelajaran dengan cara aktive learning dimana siswa belajar dengan berdiskusi kelompok, terlebih untuk anak-anak kelas X yang kaitannya dengan kurikulum 2013 yang memang ditekankan siswa untuk aktif. Hanya saja kesulitan dalam metode seperti ini adalah guru harus lebih aktif bergerak keliling kelas memperhatikan siswa-siswa yang sedang berdiskusi, karena sebelum-sebelumnya itu metode yang dipakai adalah seperti ceramah, guru menjadi central dan siswa hanya memperhatikan.
Untuk sumber pembelajaran, selain menggunakan buku teks dari sekolah dan buku yang dikembangkan dari kelompok guru, guru juga mengambil sumber dari internet di website-website pembelajaran. Begitupun dengan siswa, siswa tidak hanya terpaku pada buku teks dari sekolah, tapi dibebaskan untuk mencari berbagai sumber termasuk internet, apalagi disini ada fasilitas WiFi, jadi harus dimanfaatkan untuk belajar.
Lalu, untuk siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran itu biasanya dibantu dan memang harus dibantu. Biasanya dalam kegiatan belajar mengajar siswa-siswa yang belum paham terlihat dan itu ditanya bagian mana yang belum paham kemudian dijelaskan. Atau ada juga beberapa anak yang bilang mereka belum paham, duluar jam pelajaran guru meluangkan waktunya untuk membantu siswa tersebut.
Untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa selain nilai yang baik juga memberikan suntikan semangat dan motivasi dan biasanya karena di SMK Kesehatan ini kebanyakan perempuan, mereka mudah untuk menerima dan terpengaruhi, berbeda dengan jurusan lain yang kebanyakan laki-laki
Jika ada siswa yang menyimpang, Selama itu tidak melanggar norma-norma masih bisa dimaafkan, tapi kalau sudah menyimpang atau istilahnya “kurang ajar” itu harus dibimbing lebih serius dan itu kaitannya dengan guru BP.

Dalam kaitannya mengenai guru, tentu tak hanya guru sebagai pemberi materi pelajaran yang ditanya bagaimana ia menyampaikan materinya, siswa yang juga orang yang hampir setiap hari berinteraksi dengan guru sekalisgu sebagai subjek dan objek dalam belajar perlu untuk dimintai pendapat mengenai guru-guru yang selama ini mengajar mereka. Berikut hasil wawancara saya dengan beberapa siswa.
1.      Apakah Guru memotivasi siswa, menarik perhatian agar mengikuti proses pembelajaran dengan baik?
2.      Apakah Selama proses pembelajaran guru memberikan kesempatan untuk bertanya kepada siswa?
3.      Apabila siswa bertanya, apakah guru memberikan jawaban dengan jelas dan memuaskan?
4.      Lalu, apakah guru juga memberikan kesempatan siswa untuk memberikan pendapatnya?
5.      Selama pembelajaran berlangsung apakah guru tidak hanya berada pada posisi tertentu tetapi bergerak secara dinamis di dalam kelasnya?
6.      Apabila ada siswa yang membutuhkan bantuannya di bagian-bagian tertentu kelas, apakah guru  bergerak dan menghampiri siswa secara berimbang dan tidak terfokus hanya pada beberapa gelintir siswa saja?
7.      Apakah setiap guru menyampaikan materinya, guru memberikan latihan-latihan?
8.      Apakah setiap memberikan latihan tersebut, guru tersebut tetap berada di kelas atau hanya memberikan tugas lalu pergi keluar kelas?
9.      bagaimana cara Guru berupaya memancing siswa agar terlibat aktif dalam pembelajaran?
10.  Apakah Penampilan guru menarik dan tidak membosankan?
11.  Guru selalu menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang selalu punya inisiatif,kreatif, dan berprakarsa
Dari hasil wawancara, siswa mengatakan bahwa ada beberapa guru yang memang dalam setiap pelajaran memeberikan motivasi-motivasi dan games-games untuk menarik perhatian, tapi ada juga guru yang datang  hanya menyampaikan materi saja. Jika ada siswa yang kurang begitu aktif dalam mengikuti pelajaran, biasanya guru memancing siswa tersebut dengan mengerjakan soal di papan tulis.
Setiap selesai menyampaikan materi guru selalu bertanya siapa saja yang belum paham lalu memaparkannya kembali secara jelas. Begitupun dengan siswa yang mau memberikan pendapatnya, guru memberikan ruang untuk berpendapat. Walaupun memang pernah ada guru yang ketika siswanya bertanya mengenai pelajaran yang belum dipahami justru dimarahi.
Guru tidak hanya diam di satu tempat, tapi biasanya berkeliling ke setiap bangku siswa dan jika ada siswa yang membutuhkan bantuan atau minta dijelaskan tentang materi atau soal yang belum dimengerti, guru menghampiri siswa tersebut.
Setiap selesai materi, latihan selalu diberikan. Selama siswa mengerjakan latihan tersebut guru tetap berada di ruang kelas. Kalaupun ada guru yang hanya memberikan tugas biasanya karena guru tersebut sedang sakit atau rapat.
Penampilan guru-guru di sekolah ini berwarna, fashionable dan tidak membosankan.
             
            Demikian hasil wawancara saya dengan guru dan siswa mengenai guru di sekolah tersebut.


LAPORAN OBSERVASI PENDIDIKAN FOKUS BIDANG FASILITAS OLEH PRIYANKA RAKI A. (1113013000020)





Berikut adalah hasil wawancara saya kepada siswa-siswi dari dua sekolah yang berbeda, Sekolah Menengah Atas Negeri dan Sekolah Menengah Kejuruan Swasta.
                Ini adalah daftar pertanyaan yang saya ajukan kepada para narasumber                :
1.       Bagaimana menurut kalian mengenai fasilitas di sekolah?
2.       Apakah kalian merasa cukup dengan fasilitas dari sekolah? Berikan alasannya.
3.       Menurut kalian, fasilitas yang memadai itu seperti apa?
4.       Apakah fasilitas untuk kegiatan ekstrakurikuler sudah memadai?
5.       Apakah fasilitas untuk kegiatan belajar mengajar (KBM) sudah memadai?
6.       Bagaimana tanggapan pihak sekolah mengenai aspirasi kalian mengenai fasilitas yang masih kurang?
                Dari 6 pertanyaan di atas, berikut saya jabarkan jawaban dan opini mereka.
                Fasilitas sering disebut juga dengan sarana dan pra-sarana, hal ini sangat vital di dalam sekolah dan juga kegiatan belajar mengajar (KBM). Selain sebagai penunjang kegiatan belajar mengajar (KBM) fasilitas juga harus menjaga agar murid-murid merasa nyaman dan bisa menerima pembelajaran dengan baik.
                Beda negeri, beda swasta. Tak bisa kita pungkiri lagi, biaya juga menentukan fasilitas. Walau terkadang tidak bisa menjamin. Dari beberapa siswa yang menjadi narasumber, mereka sudah merasa cukup dengan fasilitas di sekolah masing-masing. Kenapa hanya dengan cukup saja? Karena menurut mereka ada beberapa kekurangan yang cukup mendasar, seperti bangku yang sudah usang dan lapuk, loker di kelas yang tidak ada kuncinya, kamar mandi yang penerangannya kurang dan tidak ada kuncinya, sampai masalah sirkulasi udara di kelas. Dengan murid yang kapasitasnya padat, masalah ini menjadi topik umum dari kedua sekolah ini.
                Menurut para narasumber, fasilitas yang bagus tidak harus mewah asalkan bisa menunjang kegiatan belajar mengajar (KBM) seperti ada dan lengkapnya fasilitas laboratorium, sebagai penunjang kegiatan praktek ilmiah. Selain dalam KBM, kegiatan ektrakurikuler juga perlu fasilitas yang memadai mengingat kegiatan tersebut sebagai penyalur minat dan bakat serta ekspresi para peserta didik. Dari para narasumber saya menyimpulkan bahwa sekolah masih kurang mendukung ekstrakurikuler, sekalipun sudah membawa nama sekolah dan diminati oleh murid-murid. Seperti futsal, tari tradisional, kesenian islam. Kebanyakkan mereka kesulitan dalam masalah peralatan, kostum dan pelatih.  Dalam hal ini, para siswa sudah mencoba mengajukan kepada pihak sekolah namun hanya ditanggapi saja tidak direalisasikan. Maklumlah, layaknya birokrasi di pemerintahan. Terlalu berbelit-belit dan banyak ‘meja’ lalu dipersulit.
                Beberapa narasumber lainnya yang mencoba menyampaikan aspirasi mereka mengenai fasilitas sekolahnya mendapat tanggapan yang tidak menyenangkan dari pihak sekolahnya. Tak jarang akhirnya mereka melakukan ‘demo’ sebagai bentuk protes mereka. Tentu saja ini merupakan cikal bakal budaya yang buruk di generasi muda kita.
                Masih banyak yang perlu diperbaiki lagi dari fasilitas-fasilitas di dunia pendidikan Indonesia, dana pendidikan yang diatur dalam pasal 31 ayat (4) UUD 1945 menegaskan sekurang-kurangnya perlu tersedia 20% dari APBN dan 20% dari APBD. Berangkat dari pasal inilah seharusnya fasilitas merata didapat oleh setiap sekolah di Indonesia. Selain itu juga disinggung dalam pasal 12 ayat (1) yang berbunyi              :
                                                Setiap peserta didik berhak mendapat pelayanan pendidikan
                                                sesuai dengan minat, bakat dan kemampuannya”
                Pasal inilah yang seharusnya menjadi dasar pertimbangan untuk meningkatkan fasilitas di sekolah-sekolah agar generasi Indonesia semakin mandiri, kreatif, dan inovatif.

LAPORAN OBSERVASI PENDIDIKAN FOKUS BIDANG ALUMNI/LULUSAN OLEH KHUSNUL CHOTIMAH (1113013000014)



             


Pendidikan merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan kita, ini berarti bahwa setiap manusia berhak mendapat dan berharap untuk selalu berkembang dalam pendidikan. Pendidikan secara umum mempunyai arti suatu proses kehidupan dalam mengembangkan diri tiap individu untuk dapat hidup dan melangsungkan kehidupan. Sehingga menjadi seorang yang terdidik itu sangat penting. Pendidikan pertama kali yang kita dapatkan di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Berbicara mengenai lingkungan sekolah disini saya dan teman-teman dari kelompok 3 telah melakukan observasi pendidikan disalah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tepatnya di SMK Aldiana Nusantara yang berada di kota Tangerang Selatan pada hari Jumat tanggal 18 Desember 2013 pada pukul 10 pagi sampai dengan pukul 13.00 WIB , alasan kami melakukan observasi di sekolah tersebut adalah untuk mengetahui lebih dalam bagaimana perkembangan sekolah tersebut yang menyangkut pada kejuruan sehingga membuat peserta didik dapat terlatih dan siap untuk terjun dalam dunia kerja. Dapat dikatakan pendidikan kejuruan (SMK) adalah bagian dari sistem pendidikan nasional yang bertujuan mempersiapkan tenaga yang memiliki keterampilan dan pengetahuan sesuai dengan kebutuhan persyaratan lapangan kerja dan mampu mengembangkan potensi dirinya dalam mengadopsi dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Dalam proses pendidikan kejuruan perlu ditanamkan pada siswa pentingnya penguasaan pengetahuan dan teknologi, keterampilan bekerja, sikap mandiri, efektif dan efisien dan pentingnya keinginan sukses dalam karirnya sepanjang hayat.

                  Dalam observasi ini saya mendapat bagian mewawancarai mengenai Lulusan atau Alumni di sekolah tersebut. Untuk memperkuat dan memperlancar observasi ini, maka saya melibatkan salah satu guru Tata Usaha yang bernama ibu Siti Harzah. Dari 7 pertanyaan yang saya ajukan disini beliau sangat lancar menjawabnya. Mulai dari bagaimana peran alumni sebagai katalis yang memberikan berbagai masukan kritis dan membangun kepada almamater sekolah, keberadaan alumni di berbagai bidang usaha, lapangan pekerjaan dan institusi pendidikan sehingga memberikan gambaran dan inspirasi kepada para siswa/I, berapa persenkah lulusan sekolah tersebut yang dapat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi dan apakah sisa persentasi tersebut adalah lulusan yang langsung memilih untuk bekerja, alasan siswa/I memilih melanjutkan sekolah di menengah kejuruan dibandingkan sekolah menengah atas, adakah keringanan atau pusat perhatian pihak sekolah dalam membantu lulusan dalam mencari pekerjaan, apabila lulusan tersebut ingin langsung terjun ke dunia kerja. dan bagaimana perkembangan alumni sampai saat ini yang sekolah ketahui. Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat disimpulkan bahwa SMK Aldiana Nusantara adalah sekolah swasta yang menyediakan 3 jurusan mulai dari jurusan Farmasi berakreditas A, Analys berakreditas B dan Keperawatan berakreditas B. Menurut nara sumber bahwa peran alumni di sekolah tersebut dalam meningkatkan mutu pendidikan dan dalam berbagai kegiatan ekstrakulikuler sangatlah berperan aktif karna alumni tersebut mempunyai jiwa sosial yang tinggi, selain sebagai pembimbing dalam menggerakan ekstrakulikuler dan kegiatan disekolah, alumni juga memberikan gambaran mengenai dunia kerja yang akan menjadi inspirasi terhadap adik-adik kelasnya sehingga mereka termotivasi untuk lebih berkinerja dalam menentukan arah dan cita-cita. Akan tetapi menurut beliau tidak semua alumni terjun langsung dalam dunia kerja, walau mayoritas mereka lebih memilih bekerja dibanding melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Menurut data atau berkas alumni yang telah diperlihatkan kepada saya, bahwa 70% alumni SMK Nusantara memilih langsung bekerja, dan 30% nya melanjutkan perguruan tinggi. Berdasarkan informasi yang telah di dapat oleh sekolah, bahwa rata-rata alumni yang memilih langsung bekerja mereka menempati bidang sesuai jurusan atau kemampuan yang diambil sewaktu di sekolah dan sebagian dari mereka bekerja di tempat yang sudah disediakan oleh sekolah atas kerjasama terhadap instansi perusahaan. Sedangkan bagi alumni yang melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi bahwa mayoritas mereka melanjutkan perguruan tinggi swasta di Universitas Muhamadiyah Jakarta, Bina Sarana Informatika, dan Universitas Indra Prasta, dan lain sebagainya. Untuk perguruan tinggi negeri, berdasarkan data yang didapat mereka ada yang melanjutkan di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Negeri Jakarta, dan lain sebagainya. Berdasarkan jawaban yang telah dilontarkan oleh beliau secara tegas, bahwa sekolah ini adalah sekolah yang mempunyai jaminan terhadap alumni untuk membantu mereka menentukan masa depannya dan menunujukan arah yang terbaik bagi mereka. Selain saya mewawancarai beliau, saya juga sempat bertemu dengan seorang alumni yang bernama Anisa yang kebetulan sedang berada disekolah tersebut. dengan percakapan sebagai berikut : “ assalamualaikum, bisa minta waktunya sebentar?”, “walaikumsalam, iya boleh ko, ada apa?”, “saya ingin sedikit mewawancari saja, mengenai status alumni di sekolah ini, dan kebetulan anda adalah alumni disekolah ini, apakah benar?”, “ya benar”, “langsung saja, status anda sekarang yang sedang dijalankan apa?. “saya seorang mahasiswi di Bina Sarana Informatika”. “apa alasan anda memilih melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, sedangkan sekolah ini lebih tepatnya sekolah yang siap untuk bekerja, dan berdasarkan data yang sudah di perlihatkan kepada saya, bahwa teman-teman anda banyak yang langsung bekerja dibanding harus melanjutkan ke perguruan tinggi”. “alasannya  karna itu adalah tuntutan dari orangtua, dan karna kebetulan juga saya lebih ingin menambah ilmu dan mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk bekerja nanti, dibanding langsung bekerja yang hanya membawa pengalaman seperti sebutir jagung yang pernah dilaksanakan ketika PKL (Pelatihan Kerja Lapangan). Dan menurut saya juga bahwa kuliah itu adalah sesuatu hal yang penting, selain mendapat pengalaman dan pendidikan yang meningkat tetapi juga mengangkat derajat kita agar dapat dipandang lebih baik dari sebelumnya”. Berbeda pendapat dengan nara sumber yang ketiga bahwa saya juga melibatkan siswi kelas 3 yang sedang berada didalam kelas untuk menanyakan apakah persiapan mereka untuk kedepannya setelah bukan lagi menjadi siswi tetapi menjadi alumni dari sekolah ini. salah satu dari mereka menjawab “aku ingin langsung bekerja ka” dengan alasan meringankah dan membantu beban orangtua. dan alasan kenapa dia tidak melanjutkan kuliah mayoritas mereka mejawab “tak ada biaya ka untuk melanjutkan kuliah soalnya kan masuk kuliah itu mahal”. Mendengar jawaban polos mereka saya hanya dapat tersenyum bahwa alasan mereka lebih memilih bekerja adalah karna faktor ekonomi. Ekonomi lah yang menjadi pengahambat atas keinginan siswa/I dalam melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.