Hasil wawancara saya bersama Bapak M.
Arif Noor, S.Pd., S.E., MM. selaku kepala sekolah Yayasan Aldiana Nusantara.
Kurikulum di sekolah ini mengikuti
aturan dari Pusat bukan dibuat oleh sekolah. Berarti, mengikuti teori Ralph W.Tayler dan Benjamin
S.Bloom, bukan mengikuti teori John Dewey yang membuat kurikulum sendiri.
Tujuan kurikulum yaitu focus kepada
cita-cita bangsa untuk mencerdaskan anak bangsa. Sejauh ini, peserta didik di
sini mampu mengikuti kurikulum yang ada. Tidak ada yang lamban atau bahkan
sampai drop untuk menjalani kurikulum yang ada. Kurikulum tahun ini berbeda
dari tahun sebelumnya, yang kita ketahui bahwa tahun sebelumnya memakai sistem
kompetensi sedangkan tahun ini menggunakan kurikulum 2013 yaitu outentik
sientifik. Yang apabila sistem kompetensi yaitu memfokuskan kesuksesan belajar
tertuju pada guru, sedangkan pada kurikulum 2013 ini, lebih menggenjot skill
atau kemampuan siswa. Siswa lebih diarahkan sesuai minatnya. Jadi, siswa tidak
lagi menjadi subjek. Bahkan siswa mampu menjadi objek.
Antara kurikulum SMK, SMA, dan MA,
masing-masing mempunyai kekurangan dan kelebihan. Tidak bisa dijudge mana yang
lebih baik dan mana yang standar. Masing-masing sekolah tentu mempunyai visi
yang baik bagi peserta didiknya. Agar peserta didik mampu menggapai cita-cita
dan mampu memiliki masa depan yang cerah.
Kurikulum di Indonesia sudah cukup baik.
Tapi alangkah baiknya, jika program studi lebih difokuskan pada satu skill anak
didik. Seperti di Brunei Darussalam dan Australia, anak didik yang hanya
memilih program kesenian hanya diajarkan tentang memahami kesenian dan
mengaplikasikan dalam kehidupan, pelajaran lainnya seperti bahasa inggris,
matematika tidak digenjot habis-habisan. Jadi hanya tertuju pada satu tujuan
demi menciptakan anak didik yang berkualitas tinggi dibidangnya.
Mata pelajaran di Indonesia lebih baik
dikurangi, harusnya difokuskan kepada minat atau skill peserta didik. Dan jam
pembelajaran diminimalisir agar peserta didik tidak terlalu capek dalam
belajar. Karena percuma kalau belajar tetapi otaknya sudah tidak mampu lagi
mencerna.
Intinya, kurikulum di SMK Nusantara ini
berjalan dengan baik, karena didukung oleh siswa-siswinya dalam menjalani
aturan yang ada. Tetapi, alangkah lebih baiknya jika anak didik bangsa
Indonesia hanya difokuskan sesuai kemampuannya agar bisa menjadi manusia yang memiliki
kemampuan berkompetensi yang tinggi.
Sekian observasi dari saya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar