Kamis, 26 Desember 2013

LAPORAN OBSERVASI PENDIDIKAN FOKUS BIDANG KURIKULUM OLEH IDA PARWATI (1113013000017)




Saya Ida Parwati, akan memaparkan hasil observasi saya selaku anggota kelompok 3.

Hasil wawancara saya bersama Bapak M. Arif Noor, S.Pd., S.E., MM. selaku kepala sekolah Yayasan Aldiana Nusantara.

Kurikulum di sekolah ini mengikuti aturan dari Pusat bukan dibuat oleh sekolah. Berarti,  mengikuti teori Ralph W.Tayler dan Benjamin S.Bloom, bukan mengikuti teori John Dewey yang membuat kurikulum sendiri.

Tujuan kurikulum yaitu focus kepada cita-cita bangsa untuk mencerdaskan anak bangsa. Sejauh ini, peserta didik di sini mampu mengikuti kurikulum yang ada. Tidak ada yang lamban atau bahkan sampai drop untuk menjalani kurikulum yang ada. Kurikulum tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya, yang kita ketahui bahwa tahun sebelumnya memakai sistem kompetensi sedangkan tahun ini menggunakan kurikulum 2013 yaitu outentik sientifik. Yang apabila sistem kompetensi yaitu memfokuskan kesuksesan belajar tertuju pada guru, sedangkan pada kurikulum 2013 ini, lebih menggenjot skill atau kemampuan siswa. Siswa lebih diarahkan sesuai minatnya. Jadi, siswa tidak lagi menjadi subjek. Bahkan siswa mampu menjadi objek.

Antara kurikulum SMK, SMA, dan MA, masing-masing mempunyai kekurangan dan kelebihan. Tidak bisa dijudge mana yang lebih baik dan mana yang standar. Masing-masing sekolah tentu mempunyai visi yang baik bagi peserta didiknya. Agar peserta didik mampu menggapai cita-cita dan mampu memiliki masa depan yang cerah.

Kurikulum di Indonesia sudah cukup baik. Tapi alangkah baiknya, jika program studi lebih difokuskan pada satu skill anak didik. Seperti di Brunei Darussalam dan Australia, anak didik yang hanya memilih program kesenian hanya diajarkan tentang memahami kesenian dan mengaplikasikan dalam kehidupan, pelajaran lainnya seperti bahasa inggris, matematika tidak digenjot habis-habisan. Jadi hanya tertuju pada satu tujuan demi menciptakan anak didik yang berkualitas tinggi dibidangnya.
Mata pelajaran di Indonesia lebih baik dikurangi, harusnya difokuskan kepada minat atau skill peserta didik. Dan jam pembelajaran diminimalisir agar peserta didik tidak terlalu capek dalam belajar. Karena percuma kalau belajar tetapi otaknya sudah tidak mampu lagi mencerna.

Intinya, kurikulum di SMK Nusantara ini berjalan dengan baik, karena didukung oleh siswa-siswinya dalam menjalani aturan yang ada. Tetapi, alangkah lebih baiknya jika anak didik bangsa Indonesia hanya difokuskan sesuai kemampuannya agar bisa menjadi manusia yang memiliki kemampuan berkompetensi yang tinggi.

Sekian observasi dari saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar